<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8002906128406611982</id><updated>2011-12-10T08:11:57.974-08:00</updated><category term='Kewirausahaan'/><category term='Bahasa ARAB'/><title type='text'>Abdul Qohar VISIONER</title><subtitle type='html'>CERDAS-LUGAS-GAGAS</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Abdul Qohar Visioner</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14003617605531911517</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_xa51F9MJT9Q/S2pUN4jNNnI/AAAAAAAAAAM/NzWtFX2V3w8/S220/DSC00228.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>17</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8002906128406611982.post-8129312707970931398</id><published>2011-12-10T08:11:00.000-08:00</published><updated>2011-12-10T08:11:58.064-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8002906128406611982-8129312707970931398?l=abdulqoharvisioner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/feeds/8129312707970931398/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2011/12/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/8129312707970931398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/8129312707970931398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2011/12/blog-post.html' title=''/><author><name>Abdul Qohar Visioner</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14003617605531911517</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_xa51F9MJT9Q/S2pUN4jNNnI/AAAAAAAAAAM/NzWtFX2V3w8/S220/DSC00228.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8002906128406611982.post-8567584304913234069</id><published>2010-03-29T21:39:00.001-07:00</published><updated>2010-03-29T21:39:32.181-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kewirausahaan'/><title type='text'>Kepuasan Pelanggan Sepenuhnya (Total Customer Satisfaction)</title><content type='html'>Kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (atau hasil) yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya. Jadi tingkat kepuasan adalah fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan.&lt;br /&gt;Kepuasan pelanggan sepenuhnya dapat dibedakan pada tiga taraf, yaitu:&lt;br /&gt;1. memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar pelanggan, contoh : Wiraniaga toko daging A menunjukan jenis daging yang dibutuhkan seseorang pelanggan. Ia menanyakan beberapa kg diperlukan, kemudian ditimbang dan dibungkus.&lt;br /&gt;2. memenuhi harapan pelanggan dengan cara yang dapat membuat mereka akan kembali lagi. Contoh : Wiraniaga toko daging B menunjukan jenis daging yang dibutuhkan seorang pelanggan. Ia menunjukan jenis daging apa yang diperlukan (disesuaikan dengan masakannya), jenis daging yang sudah di “aging” atau tidak (dijelaskan keuntungannya), kemudian di timbang diberi es dan dibungkus.&lt;br /&gt;3. melakukan lebih daripada apa yang diharapkan pelanggan. Contoh : Wiraniaga toko daging C (selain seperti di toko daging B), juga dijelaskan berbagai hal tentang kualitas daging dan perbedaan dari masing-masing jenis daging, jenis kemasan (vacum atau tidak) dan selain itu diberikan alternatif daging dari industri yang lain (setengah atau sudah matang). Setelah itu ditimbang, diberi es , dibungkus dan diserahkan sambil tersenyum serta mengucapkan terima kasih.&lt;br /&gt;Dari ketiga taraf di atas, keberhasilan strategi pemasaran dapat dicapai apabila sudah mencapai taraf ketiga, yaitu yang paling memberikan kepuasan kepada pelanggan.&lt;br /&gt;Setiap orang dalam dunia industri mempunyai pelanggan yang harus dipuaskannya. Ini yang pertama-tama harus disadari setiap karyawan. Kepuasan pelanggan relevan untuk kita semua, apapun pekerjaan kita, jadi kepuasan pelanggan bukan semata-mata urusan dan tanggung jawab divisi pemasaran dan pelayanan purna jual. Langkah pertama dalam usaha memuaskan pelanggan adalah menentukan dan mengantisipasi kebutuhan-kebutuhan pelanggan. Pelanggan yang berbeda dapat pula berlainan kebutuhannya dan juga berbeda perioritasnya, tetapi pada dasarnya kebutuhan-kebutuhan umum hampir sama.&lt;br /&gt;Untuk mencapai kepuasan pelanggan dalam konteks industri diperlukan beberapa kondisi dan usaha, antara lain&lt;br /&gt;a) filosofi kepuasan pelanggan&lt;br /&gt;b) mengenal kebutuhan atau harapan pelanggan&lt;br /&gt;c) membuat standar dan pengukuran kepuasan pelanggan&lt;br /&gt;d) orientasi karyawan&lt;br /&gt;e) pelatihan&lt;br /&gt;f) keterlibatan karyawan dan&lt;br /&gt;g) pengakuan.&lt;br /&gt;Sedangkan dalam konteks karyawan, ada empat unsur pokok yang harus dimiliki karyawan, yaitu&lt;br /&gt;a. keterampilan&lt;br /&gt;b. efisiensi, yaitu target “zero defect” dan tepat waktu “ deadline”&lt;br /&gt;c. ramah dan&lt;br /&gt;d. rasa bangga.&lt;br /&gt;Siapa yang Termasuk Pelanggan&lt;br /&gt;Setiap orang adalah pelanggan. Pelanggan adalah setiap orang, unit atau pihak dengan siapa kita bertransaksi, baik langsung maupun tidak langsung dalam penyediaan produk. Pada dasarnya ada dua jenis pelanggan, yaitu Pelanggan Eksternal dan Pelanggan Internal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelanggan Eksternal. &lt;br /&gt;Pelanggan eksternal adalah orang diluar industri yang menerima suatu produk (end-user). Pelanggan eksternal setiap industri jelas adalah masyarakat umum yang menerima produk industri tersebut. Beberapa hal yang diperlukan pelanggan eksternal adalah&lt;br /&gt;(a) kesesuaian dengan kebutuhan akan produk&lt;br /&gt;(b) harga yang kompetitif&lt;br /&gt;(c) kualitas dan realibilitas&lt;br /&gt;(d) pengiriman yang tepat waktu dan&lt;br /&gt;(e) pelayanan purna jual.&lt;br /&gt;Pelanggan Internal. &lt;br /&gt;Pelanggan internal adalah orang yang melakukan proses selanjutnya dari suatu pekerjaan (“next process”) Pelanggan internal merupakan seluruh karyawan dari suatu industri. Yang diperlukan pelanggan internal adalah&lt;br /&gt;(a) kerja kelompok dan kerjasama,&lt;br /&gt;(b) struktur dan sistem yang efisien,&lt;br /&gt;(c) pekerjaan yang berkualitas dan&lt;br /&gt;(d) pengiriman yang tepat waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Terjadi Jika Pelanggan Tidak Puas ?&lt;br /&gt;Pelanggan Eksternal. Hasil studi di Amerika menunjukan hal-hal berikut :&lt;br /&gt;• 90 % Pelanggan yang tidak puas tidak akan membeli lagi produk&lt;br /&gt;• Setiap pelanggan yang tidak puas akan menceritakan kepada paling sedikit 9 orang lain&lt;br /&gt;• Waktu usaha, tenaga dan uang yang diperlukan untuk menarik seseorang pelanggan baru 5 kali lebih banyak daripada untuk mempertahankan seorang pelanggan lama.&lt;br /&gt;• Setiap pelanggan yang puas akan menceritakannya kepada paling sedikit 5 orang lainnya, yang sebagian diantaranya dapat menjadi pelanggan.&lt;br /&gt;Hasil Studi “ National Productivity Board” di Singapura menunjukkan :&lt;br /&gt;- 77 % responden menyatakan tidak akan kembali jika mendapatkan pelayanan yang buruk di restoran, pusat perbelanjaan atau “sevice counter”&lt;br /&gt;- 55 % responden menyatakan akan memberitahukan kepada teman mereka agar tidak belanja atau pergi ketempat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelanggan Internal pada umumnya, bila karyawan sebagai pelanggan internal tidak puas maka kesalahan yang dibuat akan bertambah, kualitas produk menurun dan biaya industri meningkat. Jika suatu proses produksi telah menyimpang sejak awal, berapa banyak biaya yang harus ditambahkan untuk perbaikan atau penggantian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh Langkah Psikologis dalam Mengkonsumsi Produk&lt;br /&gt;Secara psikologis ada tujuh tahap yang dilewati pelanggan sebelum memutuskan membeli suatu produk:&lt;br /&gt;Langkah 1 : Perhatikan&lt;br /&gt;- Calon pelanggan memandang sekejap mata produk yang dipanjang di etalase atau ruang pamer.&lt;br /&gt;Langkah 2 : Minat&lt;br /&gt;- Calon pelanggan menunjukan minat pada produk tertentu dipajang, mencari tahu rancangan, harga dan kualitasnya.&lt;br /&gt;Langkah 3 : Asosiasi Gagasan&lt;br /&gt;- Calon Pelanggan membayangkan dirinya menggunakan produk sesuai dengan iklannya&lt;br /&gt;Langkah 4 : Keinginan&lt;br /&gt;- Jika calon pelanggan ragu-ragu, maka ia akan membandingkan dengan produk lain yang sejenis dan kemudian akan mengevaluasinya terhadap rancangan, harga dan kualitasnya.&lt;br /&gt;Langkah 5 : Kepercayaan&lt;br /&gt;- Keputusan calon pelanggan untuk membeli suatu produk didasarkan atas kepercayaan tumbuhnya rasa kepercayaan dipengaruhi oleh wiraniaga, reputasi industri, merek produk dan kualitas produk&lt;br /&gt;Langkah 6 : Tindakan&lt;br /&gt;- Calon pelanggan membeli produk&lt;br /&gt;Langkah 7 : Kepuasan&lt;br /&gt;- Setelah membeli produk, pelanggan dapat mengalami 2 jenis kepuasan, yaitu kepuasan saat proses pembelian (pelayanan wiraniaga) dan kepuasan menggunakan produk (kualitas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua hal yang dapat dipetik dari tujuh langkah psikologi tersebut :&lt;br /&gt;1. Keputusan untuk membeli terjadi karena kebutuhan-kebutuhan pelanggan terpuaskan, mulai dari ruang pamer yang telah mengantisipasi kebutuhan, penyusunannya (display) yang menarik, pelayanan penjualan dan purna jual yang prima serta kualitas produk terpercaya.&lt;br /&gt;2. Setiap karyawan sebenarnya terkait kepada produk dan mempunyai andil untuk memberikan kepuasan pelanggan, mulai dari karyawan produksi sampai wiraniaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Mengukur Kepuasan Pelanggan ?&lt;br /&gt;Cara sederhana yang digunakan untuk mengukur kepuasan pelanggan, yaitu :&lt;br /&gt;a. Sistem Keluhan dan Saran&lt;br /&gt;Industri yang berwawasan pelanggan akan menyediakan formulir bagi pelanggan untuk melaporkan kesukaan dan keluhannya. Selain itu dapat berupa kotak saran dan telepon pengaduan bagi pelanggan. Alur informassi ini memberikan banyak gagasan baik dan industri dapat bergerak lebih cepat untuk menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Survei Kepuasan Pelanggan&lt;br /&gt;Industri tidak dapat menggunakan tingkat keluhan sebagai ukuran kepuasan pelanggan. Industri yang responsif mengukur kepuasan pelanggan dengan mengadakan survei berkala, yaitu dengan mengirimkan daftar pertanyaan atau menelpon secara acak dari pelanggan untuk mengetahui perasaan mereka terhadap berbagai kinerja industri. Selain itu juga ditanyakan tentang kinerja industri saingannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Ghost Shopping (Pelanggan Bayangan)&lt;br /&gt;Pelanggan bayangan adalah menyuruh orang berpura-pura menjadi pelanggan dan melaporkan titik-titik kuat maupun titik-titik lemah yang dialami waktu membeli produk dari industri sendiri maupun industri saingannya. Selain itu pelanggan bayangan melaporkan apakah wiraniaga yang menangani produk dari industri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Analisa Pelanggan yang Beralih.&lt;br /&gt;Industri dapat menghubungi pelanggan yang tidak membeli lagi atau berganti pemasok untuk mengetahui penyebabnya (apakah harganya tinggi, pelayanan kurang baik, produknya kurang dapat diandalkan dan seterusnya, sehingga dapat diketahui tingkat kehilangan pelanggan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8002906128406611982-8567584304913234069?l=abdulqoharvisioner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/feeds/8567584304913234069/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/03/kepuasan-pelanggan-sepenuhnya-total.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/8567584304913234069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/8567584304913234069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/03/kepuasan-pelanggan-sepenuhnya-total.html' title='Kepuasan Pelanggan Sepenuhnya (Total Customer Satisfaction)'/><author><name>Abdul Qohar Visioner</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14003617605531911517</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_xa51F9MJT9Q/S2pUN4jNNnI/AAAAAAAAAAM/NzWtFX2V3w8/S220/DSC00228.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8002906128406611982.post-4882354613450516420</id><published>2010-03-29T21:37:00.000-07:00</published><updated>2010-03-29T21:37:07.366-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kewirausahaan'/><title type='text'>Marketing Mix / Bauran Pemasaran</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Pemasaran (Inggris:Marketing) adalah proses penyusunan komunikasi terpadu yang bertujuan untuk memberikan informasi mengenai barang atau jasa dalam kaitannya dengan memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia.&lt;br /&gt;Pemasaran dimulai dengan pemenuhan kebutuhan manusia yang kemudian bertumbuh menjadi keinginan manusia. Contohnya, seorang manusia membutuhkan air dalam memenuhi kebutuhan dahaganya. Jika ada segelas air maka kebutuhan dahaganya akan terpenuhi. Namun manusia tidak hanya ingin memenuhi kebutuhannya namun juga ingin memenuhi keinginannya yaitu misalnya segelas air merek Aqua yang bersih dan mudah dibawa. Maka manusia ini memilih Aqua botol yang sesuai dengan kebutuhan dalam dahaga dan sesuai dengan keinginannya yang juga mudah dibawa.&lt;br /&gt;Proses dalam pemenuhan kebutuhan dan keinginan manusia inilah yang menjadi konsep pemasaran. Mulai dari pemenuhan produk (product), penetapan harga (price), pengiriman barang (place), dan mempromosikan barang (promotion). Seseorang yang bekerja dibidang pemasaran disebut pemasar. Pemasar ini sebaiknya memiliki pengetahuan dalam konsep dan prinsip pemasaran agar kegiatan pemasaran dapat tercapai sesuai dengan kebutuhan dan keinginan manusia terutama pihak konsumen yang dituju.&lt;br /&gt;Marketing mix adalah empat komponen dalam pemasaran yang terdiri dari 4P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Product (produk)&lt;br /&gt;    * Price (harga)&lt;br /&gt;    * Place (tempat, termasuk juga distribusi)&lt;br /&gt;    * Promotion (promosi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pemasaran bukanlah ilmu pasti seperti keuangan (finance), teori Marketing mix juga terus berkembang. Dalam perkembangannya, dikenal juga istilah 7P dimana 3P yang selanjutnya adalah People (Orang), Physical Evidence (Bukti Fisik), Process (Proses). Penulis buku Seth Godin, misalnya, juga menawarkan teori P baru yaitu Purple Cow.[1]&lt;br /&gt;Pemasaran lebih dipandang sebagai seni daripada ilmu, maka seorang ahli pemasaran tergantung lebih banyak pada ketrampilan pertimbangan dalam membuat kebijakan daripada berorientasi pada ilmu tertentu.&lt;br /&gt;Pandangan ahli ekonomi terhadap pemasaran adalah dalam menciptakan waktu, tempat dimana produk diperlukan atau diinginkan lalu menyerahkan produk tersebut untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen (konsep pemasaran).&lt;br /&gt;Metode pemasaran klasik seperti 4P di atas berlaku juga untuk pemasaran internet, meskipun di internet pemasaran dilakukan dengan banyak metode lain yang sangat sulit diimplementasikan diluar dunia internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disarikan dari Wikipedia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8002906128406611982-4882354613450516420?l=abdulqoharvisioner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/feeds/4882354613450516420/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/03/marketing-mix-bauran-pemasaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/4882354613450516420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/4882354613450516420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/03/marketing-mix-bauran-pemasaran.html' title='Marketing Mix / Bauran Pemasaran'/><author><name>Abdul Qohar Visioner</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14003617605531911517</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_xa51F9MJT9Q/S2pUN4jNNnI/AAAAAAAAAAM/NzWtFX2V3w8/S220/DSC00228.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8002906128406611982.post-4588405272317016456</id><published>2010-03-13T17:31:00.000-08:00</published><updated>2010-03-13T17:31:08.791-08:00</updated><title type='text'>Kisah Pengusaha sukses Dari Buruh MEnjadi Wirausaha</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:595.45pt 841.7pt;  margin:3.0cm 3.0cm 3.0cm 3.0cm;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Di Postkan oleh Sholehuddin (3 TKJ 1)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;November 1, 2007 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt;BANDUNG – Pendidikan sekolah tak selalu menjamin kesuksesan seseorang. Sudah banyak contoh orang-orang sukses tanpa latar belakang pendidikan yang tinggi. Yoyo Saputra, salah satu contohnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt;Lelaki kelahiran Ciamis, Jabar, 41 tahun lalu ini hanya memiliki ijazah setingkat SD. Namun dengan bekal pendidikan yang pas-pasan itu, kini Yoyo mampu menjadi wirausahawan yang sukses.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Usaha yang ditekuni oleh Yoyo adalah memproduksi suku cadang mesin-mesin industri yang terbuat dari karet dan plastik. Memang kesuksesan Yoyo ini tidak datang secara tiba-tiba. Prosesnya cukup panjang.&lt;br /&gt;Dimulai pada tahun 1982 ketika Yoyo nekat meninggalkan tanah kelahirannya di Ciamis. Tanpa bekal apa-apa, Yoyo yang baru lulus SD ini merantau ke Bandung. Tujuannya untuk bekerja.&lt;br /&gt;“Saya diterima kerja menjadi buruh perusahaan yang membuat suku cadang mesin yang terbuat dari karet,” kata Yoyo ketika ditemui SH di rumahnya di kawasan Kiara Condong PSM Bandung.&lt;br /&gt;Yoyo padahal sama sekali awam dengan pekerjaan yang ditekuninya saat itu. Beruntung Yoyo tergolong orang yang mau belajar. Lambat laun Yoyo pun mulai bisa mencetak sendiri suku cadang mesin yang terbuat dari karet seperti kopel dan poli eretan maupun selang. Kemampuannya itu terasah secara otodidak.&lt;br /&gt;Di tempat kerjanya, Yoyo belajar lebih banyak lagi. Tidak sekadar hanya belajar membuat produk, tapi mulai belajar mencari order pesanan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial;"&gt;Menurut Yoyo, dirinya memiliki pengalaman tak terlupakan kala coba-coba mencari order sendiri. Sebagai ongkos untuk pergi mencari order ke Jakarta, Yoyo harus melego jaket kulit kesayangannya. Yoyo lupa jaket kulit miliknya saat itu laku terjual dengan harga berapa. Yang pasti, kenang Yoyo, uang dari penjualan jaket kulit hanya cukup untuk ongkos berangkatnya saja.&lt;br /&gt;Untuk kembali ke Bandung, Yoyo harus mencari tumpangan secara gratis. “Waktu itu saya gagal. Ternyata tidak gampang mencari order,” aku Yoyo.&lt;br /&gt;Kegagalan di pengalaman yang pertama tak membuat Yoyo patah arang. Yoyo tetap terus berusaha. Hingga akhirnya, ia memperoleh order sendiri. Setelah dirasa punya cukup pengalaman, Yoyo keluar dari pekerjaannya.&lt;br /&gt;Yoyo memberanikan diri untuk membuka usaha yang sama pada tahun 1985-an. Karena tidak mempunyai modal, Yoyo membuka usaha dengan uang pinjaman sekitar Rp 200.000. Dengan uang pinjaman ini, Yoyo membeli mesin press bekas.&lt;br /&gt;Karena sudah mulai banyak dikenal, tidak sulit baginya untuk mendapatkan order pesanan. Pesanan pertama yang diterimanya kala itu adalah membuat semacam terminal las serta klep pompa air. Pesanan pertama ini dikerjakannya dengan baik hingga membuat si pemesan puas.&lt;br /&gt;Menurut Yoyo, dirinya punya prinsip membuat produk yang kualitasnya baik dengan tepat waktu seperti yang diinginkan oleh pihak pemesan.&lt;br /&gt;Dengan prinsip ini, lambat laun pesanan yang diterimanya terus bertambah. semakin banyak pemesan yang percaya pada dirinya. “Modal saya pas-pasan. Makanya saya selalu minta uang muka dari pemesan. Uang muka itu saya pakai untuk membeli bahan baku karet,” tutur Yoyo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: Arial; line-height: 150%;"&gt;Hasil Kerja Keras&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;Kerja keras dari Yoyo mulai berbuah kesuksesan. Ketika krisis moneter melanda negeri ini sekitar tahun 1997-an, usaha yang dirintis oleh Yoyo terbukti mampu bertahan. Saat itu pesanan yang datang justru berlipat-lipat jumlahnya.&lt;br /&gt;Sayangnya tidak semua pesanan mampu dipenuhinya. Harga bahan baku karet yang naik hingga 300 persen merupakan penyebabnya. Yoyo mengatakan banyak pemesan yang keberatan ketika harga produknya dinaikkan, pPadahal dengan naiknya harga bahan baku karet, sulit bagi Yoyo untuk tidak ikut menaikkan harga.&lt;br /&gt;Sampai sekarang harga bahan baku karet yang terus naik selalu menjadi masalah bagi Yoyo. Di awal tahun 2005 lalu, harga bahan baku karet kembali naik hingga 10 persen. Bukan hanya harga saja yang naik, Yoyo pun ternyata harus menanggung pajak PPn untuk semua karet yang dibelinya.&lt;br /&gt;Pengenaan pajak ini dikeluhkan oleh Yoyo. “Usaha saya ini usaha kecil, masak diberlakukan sama dengan industri besar, harus membayar PPn juga,” ujar suami dari Ratna Sulastri ini. Pengenaan PPn berikut harga bahan baku karet yang terus naik menjadi masalah bagi kelangsungan usaha yang dirintis oleh Yoyo.&lt;br /&gt;Pasalnya, tidak semua pemesan mengerti. Ketika Yoyo harus menaikkan harga produknya, sebagian besar pemesan membatalkan pesanannya. Hingga akhirnya Yoyo harus bersiasat untuk menentukan harga.&lt;br /&gt;Menurut Yoyo kalaulah harga produknya naik, kenaikan harga tidak dapat serta-merta mengikuti kenaikan harga bahan baku. Paling-paling yang dilakukannya adalah menekan keuntungan. “Dapat untung antara 10 persen-15 persen sudah bagus,” katanya.&lt;br /&gt;Kalau Yoyo coba-coba cari untung lebih banyak, pihak pemesan bakal beralih ke tempat lain. Maklum, usaha sejenis seperti yang ditekuni oleh Yoyo jumlahnya sekarang sudah sangat banyak.&lt;br /&gt;Persaingan di antara mereka semakin ketat. Yoyo menyikapi persaingan ini dengan cara wajar. Yoyo mengatakan kalau kemudian pihak pemesan mengalihkan order ke yang lain, berarti hal itu memang bukan rezekinya. Sikap pasrah ini justru membuat Yoyo selalu berlapang dada.&lt;br /&gt;Toh pesanan selalu mengalir. Nama Yoyo yang telah dikenal sepertinya menjadi jaminan. Terlebih lagi Yoyo berani bersaing dengan menawarkan produk yang berkualitas serta menyelesaikan pesanan tepat waktu sesuai keinginan si pemesan.&lt;br /&gt;Kini, Yoyo memang mulai menikmati kesuksesannya. Pesanan yang terus datang, sebanyak 11 mesin pres dan mesin bubut yang dimiliki serta 7 pekerja yang membantunya menjadi indikator kesuksesan usaha milik Yoyo.&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt;Omzet sebesar Rp 25 juta/bulan adalah indikator lain dari keberhasilan Yoyo merintis usahanya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Semua keberhasilan ini tak membuat Yoyo cepat berpuas diri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Read More...&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8002906128406611982-4588405272317016456?l=abdulqoharvisioner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/feeds/4588405272317016456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/03/kisah-pengusaha-sukses-dari-buruh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/4588405272317016456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/4588405272317016456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/03/kisah-pengusaha-sukses-dari-buruh.html' title='Kisah Pengusaha sukses Dari Buruh MEnjadi Wirausaha'/><author><name>Abdul Qohar Visioner</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14003617605531911517</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_xa51F9MJT9Q/S2pUN4jNNnI/AAAAAAAAAAM/NzWtFX2V3w8/S220/DSC00228.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8002906128406611982.post-1786590063356858025</id><published>2010-03-12T18:43:00.000-08:00</published><updated>2010-03-12T20:18:13.109-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahasa ARAB'/><title type='text'>Ilmu Nahwu dan Abu Aswad Ad-Dhuali</title><content type='html'>&lt;div style="float: right; margin: 8px 0px 8px 8px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;                      &lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--google_ad_client = "pub-2007925218195764";/* 300x250, dibuat 09/11/17 */google_ad_slot = "4026524672";google_ad_width = 300;google_ad_height = 250;//--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;  &lt;/center&gt;               &lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"&gt;Saudaraku yang baik, ketika kita berkunjung ke sebuah toko buku (maktabah) dan berhenti di depan tatanan buku (baca; kitab) gramatikal bahasa Arab (an-Nahwu). Seketika itu juga, kita berdecak kagum pada para ulama yang mampu menulis buku berjilid-jilid, sehingga timbul keinginan kita untuk membeli dan mendalaminya. Namun, ada sutu hal yang terlebih penting sebelum mendalami sebuah buku. Yaitu, mengenal dasar-dasar ilmu yang sepuluh (Al-Mabadi Al-Asyarah) dari buku tersebut. Diantaranya, mengenal siapa pelopor ilmu tersebut. Ilmu Nahwu merupakan ilmu yang pertama kali dibukukan dalam Islam, karena berkaitan dengan memelihara lisan dari kesalahan ketika membaca al-Qur an. Disamping itu, ilmu Nahwu juga termasuk kategori ilmu pembantu dalam mempelajari ilmu-ilmu lainnya. Misalnya, ilmu Usul Fiqh, Tafsir, Fiqh, Mantiq dan lain-lainnya. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penamaan Ilmu Nahwu, pengarang dan perkembangannya.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"&gt;Ketika Islam mampu mengembangkan sayapnya ke belahan dunia. Maka, secara otomatis bahasa arab juga ikut andil dalam hal itu. Karena disamping sebagai bahasa resmi umat islam terutama shalat, juga Negara Arab sebagai tempat turunnya agama Islam, yang ketika itu Makkah sebagai daerahnya. Karena itu, bahasa arab akhirnya banyak yang ingin mempelajarinya sehingga tidak terlepaslah dari percampuran dengan bahasa lain yang secara pasti akan merubah susunan gramatikalnya. Akhirnya, fenomena ini menjadi perhatian penting pencinta dan pemerhati bahasa arab sendiri, karena seringnya mereka menemukan kesalahan (lahn) dalam berbicara dan penulisan. Hal ini terjadi, tidak lepas karena orang non arab (azam) dalam berbicara keseharian masih selalu menggunakan bahasa negaranya sendiri, sehingga ketika berbicara dengan orang yang berketurunan arab selalu terdapat kesalahan dalam melafalkan kalimat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu riwayat disebutkan, bahwa Abu Al-Aswad Ad-Dhual sebagai pencinta dan pemerhati bahasa arab yang tinggal di negeri Basrah (sekarang, Irak) pernah menemukan seorang qori sedang mentilawahkan al-Qur an. Ketika itu, qori tersebut membaca kata "&lt;i&gt;rasuulihi&lt;/i&gt;" yang terdapat dalam ayat "&lt;i&gt;innallaaha bariiun minalmusyrikiin wa rasuuluhu&lt;/i&gt;"� dengan berbaris bawah (&lt;i&gt;kasrah&lt;/i&gt;) dengan maksud meng'athaf kannya kepada kata" &lt;i&gt;al-musyrikiin&lt;/i&gt;". Dan dalam riwayat yang lain, suatu malam Abu Al-Aswad Al-Dhual sedang duduk di balkon bersama putri kesayangannya, ketika sang putri melihat bintang-bintang di langit begitu indah sekali dengan menimbulkan cahaya yang gemilang, sehingga timbul kekagumannya dan mengatakan "&lt;i&gt;ma ahsannus sama a&lt;/i&gt;" sebagai badal dari kalimat kagum (&lt;i&gt;ta'azzub&lt;/i&gt;) yang seharusnya "&lt;i&gt;ma ahsanasama i&lt;/i&gt;". Dan telah banyak ia mendengar keselahan-kesalahan masyarakat pada waktu itu dalam berbicara, sehingga timbul kekhawatirannya akan rusaknya estetika gramatikal bahasa arab dari wujud� aslinya. Kemudian ia pergi mengadukan hal-hal yang pernah ditemukannya, yang berkaitan dengan kerusakan estetika gramatikal bahasa arab kepada Saidina Ali Ra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Aliran-aliran ilmu nahwu (Madaaris an-Nahwiyah).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Setelah tersusunnya ilmu gramatikal bahasa arab dan banyaknya para ulama yang telah memperjelas ilmu tersebut. Hal ini, mengakibatkan timbulnya aliran-aliran dalam ilmu nahwu, yang disebabkan adanya khilaf dikalangan para ulama nahwu dalam menentukan posisi (&lt;i&gt;mahal&lt;/i&gt;) kata dalam suatu kalimat. Beda persepsi ini, tidak luput dari pengaruh daerah para ulama tersebut menetap. Diantara aliran-aliran ilmu nahwu (&lt;i&gt;Madaaris an-Nahwiyah&lt;/i&gt;) tersebut: aliran (&lt;i&gt;madrasah&lt;/i&gt;) Al-Basrah, Kufah, Baghdad, Andalus dan Mesir. Namun, aliran (&lt;i&gt;madrasah&lt;/i&gt;) yang paling terkenal dalam kitab-kitab nahwu hanya dua, Basrah dan Kufah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Aliran (Madrasah) Basrah.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Aliran (&lt;i&gt;Madrasah&lt;/i&gt;) ini berkembang pesat hingga terkenal di kalangan para ulama nahwu (&lt;i&gt;Nahwiyyiin&lt;/i&gt;), dikarenakan begitu semangat dan gigihnya para pelajar (&lt;i&gt;thalib&lt;/i&gt;) dalam mempelajari ilmu nahwu yang langsung diajar oleh penyusun kitab nahwu pertama kali, Abu Aswad ad-Dhuali. Sebab utama begitu semangatnya mereka dalam mendalami ilmu nahwu, ketika itu Negeri Basrah telah bercampur penduduknya antara pribumi (baca; warga Basrah) dengan non pribumi (&lt;i&gt;azam&lt;/i&gt;) yang hidup layaknya seperti penduduk asli. Bahasa arab merupakan bahasa resmi negara pada waktu itu, namun karena adanya percampuran non pribumi dalam negeri itu yang secara otomatis mengakibatkan adanya kerusakan dalam susunan tata bahasa arab. Sibawaihi merupakan salah satu produk aliran (&lt;i&gt;madrasah&lt;/i&gt;) Basrah, yang telah mengarang buku nahwu yang berjudul "&lt;i&gt;al-Kitab&lt;/i&gt;". Diantara ciri khas aliran (&lt;i&gt;madrasah&lt;/i&gt;) Basrah selalu berpegang pada pendapat jumhur bahasa (&lt;i&gt;lughoh&lt;/i&gt;) bila terdapat khilaf. Jika terdapat yang menyalahi jumhur mereka takwilkan� atau menggolongkannya sebagai kelompok yang ganjil (&lt;i&gt;syaz&lt;/i&gt;), dan aliran (&lt;i&gt;madrasah&lt;/i&gt;) ini selalu menggunakan sima'i dalam memecahkan suatu masalah yang berkaitan dengan gramatikal bahasa arab. Aliran (&lt;i&gt;Madrasah&lt;/i&gt;) Kufah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri Kufah terkenal sebagai Negerinya para Muhadditsin, Penyair dan Qira ah. Sehingga terdapat di dalamnya tiga ulama yang masyhur dalam qira ah seperti kisai, Ashim Bin Abi Al-Nujud dan Hamzah. Kisaai termasuk pendiri aliran (&lt;i&gt;Madrasah&lt;/i&gt;) Kufah. Penadapatnya terhadap suatu masalah dalam gramatikal bahasa arab selalu menjadi acuan, baik pengikutnya maupun yang lainnya. Ciri khas aliran (&lt;i&gt;madrsah&lt;/i&gt;) ini, lebih sering menggunakan qiyas dalam memecahkan suatu masalah yang berkaitan dengan gramatikal bahasa� arab. Jadi, begitu indahnya bahasa arab memiliki pemerhati bahasa yang mampu menjaga estetika bahasa itu sendiri. Bagaimana dengan bahasa Indonesia, akankah tetap memiliki estetika bahasa yang tinggi? Semoga! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tulisan ini disarikan dari kitab Mujaz Tarikh an-Nahwu, Taufiq Amr Balthoh zi,&lt;br /&gt;cetakan I, maktabah Dar al-Syaikh amin kuftaru. &lt;/i&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;i&gt;di ambil dari http://www.cybermq.com/pustaka&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8002906128406611982-1786590063356858025?l=abdulqoharvisioner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/feeds/1786590063356858025/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/03/ilmu-nahwu-dan-abu-aswad-ad-dhuali.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/1786590063356858025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/1786590063356858025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/03/ilmu-nahwu-dan-abu-aswad-ad-dhuali.html' title='Ilmu Nahwu dan Abu Aswad Ad-Dhuali'/><author><name>Abdul Qohar Visioner</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14003617605531911517</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_xa51F9MJT9Q/S2pUN4jNNnI/AAAAAAAAAAM/NzWtFX2V3w8/S220/DSC00228.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8002906128406611982.post-3469366636077630856</id><published>2010-03-01T07:16:00.000-08:00</published><updated>2010-03-12T03:00:07.072-08:00</updated><title type='text'>Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan</title><content type='html'>Oleh Agus Wibowo&lt;br /&gt;Dimuat Harian Bisnis Bali&lt;br /&gt;Edisi 16 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat krisis finansial global yang diikuti pemutusan hubungan kerja (PHK), pengangguran di Indonesia mengalami kenaikan. Data Organisasi Buruh Dunia (ILO, 2009), menyebutkan sektor industri/usaha menyumbang sedikitnya 170.000 hingga 650.000orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah itu bisa makin meroket akibat goyahnya sejumlah industri inti, yang bakal turut menyeret ratusan industri pendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh adalah industri garmen yang membutuhkan pemasok bahan baku kain, benang, bahan kimia, logistik, sampai komponen mesin yang disebut subkontraktor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga industri otomotif dengan jaringan pemasok komponen serta industri pulp dan kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena pengangguran akibat PHK, tentu saja menimbulkan keprihatinan kita bersama. Apalagi, mendekati pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) di mana suhu politik tengah memanas.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tingginya angka pengangguran itu — selain berbanding lurus dengan tindak kriminalitas — dikhawatirkan akan digunakan oknum tertentu untuk menciptakan konflik dan disintegrasi bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, sudah semestinya jika seluruh elemen bangsa menyikapi persoalan pengangguran secara jernih, sembari memikirkan solusi jitu untuk mengatasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu dalam masyarakat ditumbuhkan semangat dan jiwa kewirausahaan (entrepreneurship). Jiwa dan semangat kewirausahaan ini, sangat urgen dalam menentukan kemajuan perekonomian suatu negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya ketepatan prediksi dan analisis yang tepat, tetapi juga merangsang terjadinya invensi dan inovasi penemuan-penemuan baru yang lebih efektif bagi pertumbuhan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pinchot (1988), kewirausahaan atau entrepreneurship merupakan kemampuan untuk menginternalisasikan bakat rekayasa dan peluang yang ada. Seorang entrepreneur akan berani mengambil resiko, inovatif, kreatif, pantang menyerah, dan mampu menyiasati peluang secara tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, Husaini Usman dalam bukunya Manajemen: Teori, Praktik dan Riset Pendidikan (2008), menyebut setidaknya dua cara efektif untuk menanamkan nilai-nilai kewirausahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pembiasaan dalam keluarga. Semenjak anak-anak masih keci, orangtua harus sudah memperkenalkan jiwa kewirausahaan. Misalnya, anak-anak diikutkan pada usaha kerajinan atau industri rumahtangga (home industry) yang ada di sekitar tempat tinggalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, sebelumnya sudah disepakati jenis pekerjaan antara pemilik usaha dengan orangtua, sebatas yang terjangkau bagi anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap akhir minggu, mereka juga digaji sebagaimana pekerja lainnya, sekali pun tidak seberapa. Gaji itu tidak boleh digunakan untuk jajan, melainkan ditabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara ini dimaksudkan agar anak memiliki pengalaman bagaimana menjadi pekerja, sekaligus menanamkan pelajaran bagaimana menghargai hasil keringat sendiri — dengan cara menabung uang hasil kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, dengan bekerja di home industry anak-anak memperoleh dua keuntungan; mereka memiliki pengalaman bekerja, menghayati dunia usaha dan sekaligus merasakan bagaimana hidup sebagai pekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali dalam sebulan, anak-anak ditugasi ke pasar. Mereka harus mencari informasi berbagai harga barang-barang di pasar, seperti harga gula, beras, berbagai macam sayur, peralatan rumah tangga dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak juga disuruh menanyakan satu persatu harga berbagai barang sekali pun tidak membelinya. Selanjutnya, hasil survai pasar tersebut dianalisis dan dijadikan bahan diskusi rutin tiap bulan di lingkungan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan ini dimaksudkan agar anak menjadi akrab dengan kehidupan nyata, mampu berkomunikasi dengan baik, mengemukakan pendapat, menarik kesimpulan, sekaligus membiasakan diri selalu mengikuti perkembangan ekonomi sehari-hari.&lt;br /&gt;Pendidikan Kewirausahaan&lt;br /&gt;Kedua, penanaman kewirausaan melalui pendidikan. Di sekolah/Perguruan Tinggi, perlu dimasukkan pelajaran atau mata kuliah kewirausahaan dengan proporsi lebih ketimbang pelajaran/mata kuliah lainnya—paling tidak seimbang. Pelajaran kewirausahaan itu, harus disajikan secara sistematis serta disesuaikan dengan tingkatan pendidikan dan usia peserta didik. Kemasan pelajaran juga harus menarik minat peserta didik, sehingga mereka merasa enjoy mempelajarinya, tidak ada paksaan dan belajar dalam kondisi gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali waktu, sekolah perlu mengundang para pelaku bisnis yang sukses. Mereka diminta menerangkan atau menceritakan perjalanan hidup mereka, dan bagaimana kiat-kiat agar usaha bisa sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah hidup itu, paling tidak akan merangsang anak untuk meniru atau meneladaninya. Jika memungkinkan, anak-anak juga diikutkan dalam kegiatan magang kerja di suatu usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuanya, selain memperkenalkan anak pada kondisi usaha riil, mereka juga bisa melihat langsung praksis dari teori-teori yang telah diperolehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran kewirausaan, kata P Budi Santosa (2008), akan lebih efektif jika sekolah juga mendirikan usaha nyata. Misalnya, sekolah mendirikan gerai penjual makanan, simpan pinjam, jasa tiket transportasi, perbankan, kursus bahasa asing dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, anak didik secara bergantian mendapat tugas berpraksis di situ, dengan target-target yang telah ditentukan. Sebagaimana kegiatan magang, pendirian dunia usaha di sekolah itu bertujuan mengakrabkan anak didik antara teori dan praktik nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, semangat dan jiwa kewirausaan merupakan pondasi ampuh bagi bangsa ini menghadapi krisis finansial global, maupun peningkatan angka pengangguran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala pendidikan kewirausahaan — yang ditanamkan melalui keluarga dan pendidikan formal — telah berjalan efektif, sebesar apa pun krisis finansial akan disikapi dengan kepala dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu karena masyarakat telah terbiasa memecahkan problem berat dengan strategi yang cepat dan tepat. Lebih dari itu, makin berat krisis justru makin mematangkan penguasaan masyarakat terhadap ilmu kewirausahaan yang telah dipelajarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kondisi demikian, tidak akan terjadi masyarakat depresi atau kehilangan semangat hidup, hanya karena PHK. Semoga. [] Penulis adalah Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8002906128406611982-3469366636077630856?l=abdulqoharvisioner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/feeds/3469366636077630856/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/03/menumbuhkan-jiwa-kewirausahaan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/3469366636077630856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/3469366636077630856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/03/menumbuhkan-jiwa-kewirausahaan.html' title='Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan'/><author><name>Abdul Qohar Visioner</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14003617605531911517</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_xa51F9MJT9Q/S2pUN4jNNnI/AAAAAAAAAAM/NzWtFX2V3w8/S220/DSC00228.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8002906128406611982.post-5337751644660037069</id><published>2010-02-08T02:48:00.000-08:00</published><updated>2010-03-12T03:00:23.762-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kewirausahaan'/><title type='text'>Menjadi Entrepreneur, Semua Bisa</title><content type='html'>Menjadi entrepteneur sangat tergantung kemampuan kita merekayasa diri.&lt;br /&gt;Menjadi entrepreneur, saya yakin siapapun bisa. Hal ini, sengaja saya ungkap dalam tulisan ini, mengingat di lapangan kita masih sering melihat bahwa kebanyakan orang Padang, Bugis atau keturunan Cina itu lebih berhasil di bidang bisnis dibanding lainnya. Sehingga disimpulkan, bahwa hal itu karena sifat keturunan atau bakat.&lt;br /&gt;Saya kira itu bukan satu-satunya. Justru yang benar, menurut saya, anak-anak mereka sejak kecilnya memang telah belajar secara informal tentang bisnis (yang menjadi dunia orang tuanya) dari lingkungan keluarganya terus menerus, dan kemudian merekamnya dalam memori otaknya, yang selanjutnya membentuk pola berpikir dan cara berperilaku.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, saya justru berpendapat, meski kita tak ada bakat dagang, bisa saja jadi pedagang atau wirausahawan. Karena itu, janganlah kita merasa rendah diri hanya karena persoalan berbakat atau tidak. Menurut saya, untuk menjadi pengusaha itu juga tak mengenal usia tua atau muda. Kaya atau miskin. Jenius atau tidak. Mahasiswa atau bukan. Sudah sarjana atau belum. Dan, gelar formal seseorang itu, saya kira, bukanlah jaminan atau faktor penentu satu-satunya untuk kita berhasil menjadi pengusaha.&lt;br /&gt;Bahkan, Al Ries, seorang penulis buku: "Positioning: The Battle of Your Mind", ini pernah mengungkapkan, bahwa lebih dari lima puluh persen anggota eksekutif puncak di Mc. Donald's Corporation, ternyata juga tidak bergelar akademis. Namun, mereka mampu meraih kesuksesan yang luar biasa.&lt;br /&gt;Selain itu, untuk menjadi pengusaha itu, juga tidak mengenal etnis. Artinya, etnis apapun bisa menjadi pengusaha yang sukses. Maka, sebaiknya janganlah ada kekhawatiran lainnya yang mungkin masih terbayang dibenak kita atau yang intinya kita "alergi" dengan dunia usaha.&lt;br /&gt;Sebab, sesungguhnya keberhasilan seseorang menjadi pengusaha sangat tergantung pada kemampuan kita untuk merekayasa diri melalui pengalaman hidup di luar keluarga. Misalnya, bisa melalui pendidikan atau pelatihan atau mentoring. Atau bisa juga kita belajar dari pengalaman di lapangan atau istilahnya "universitas kehidupan".&lt;br /&gt;Apalagi, kalau kita juga mampu melaksanakan empat tugas pokok seorang wirausahawan, yakni: tugas kreatif, tugas manajerial, tugas interpersonal, dan tugas kepemimpinan. Hal tersebut tentunya akan lebih memungkinkan lagi bagi kita, untuk lebih bisa meraih keberhasilan dalam karier sebagai pengusaha yang sukses.&lt;br /&gt;Maka, sekali lagi, percayalah pada kemampuan kita. Pemikiran pesimistis yang membuat kita merasa tidak mampu menjadi pengusaha, itu harus kita buang jauh-jauh. Sebaliknya, kita tidak hanya yakin sekadar bisa menjadi pengusaha, tapi kita pun akan semakin yakin dan mampu menjadi pengusaha yang sukses.&lt;br /&gt;Saya yakin, dengan kita bersikap begitu, pasti selalu ada jalan untuk menjadi pengusaha yang sukses. Itu ibarat air yang tak akan mulai mengalir kalau krannya belum diputar. Anda berani mencoba?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8002906128406611982-5337751644660037069?l=abdulqoharvisioner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/feeds/5337751644660037069/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/02/menjadi-entrepreneur-semua-bisa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/5337751644660037069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/5337751644660037069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/02/menjadi-entrepreneur-semua-bisa.html' title='Menjadi Entrepreneur, Semua Bisa'/><author><name>Abdul Qohar Visioner</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14003617605531911517</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_xa51F9MJT9Q/S2pUN4jNNnI/AAAAAAAAAAM/NzWtFX2V3w8/S220/DSC00228.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8002906128406611982.post-8397382280171283719</id><published>2010-02-08T02:47:00.000-08:00</published><updated>2010-03-12T03:01:26.454-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kewirausahaan'/><title type='text'>Mitos Hutang</title><content type='html'>Kalau bisnis kita ingin maju, maka hutang untuk perusahaan saya kira bukan masalah&lt;br /&gt;Mitos atau anggapan "Hutang itu Buruk", bisa benar bisa salah. Benar hutang itu buruk, apabila kita berhutang terlalu banyak, hanya untuk keperluan konsumtif. Tetapi apabila hutang itu kita manfaatkan untuk melakukan bisnis atau usaha, maka anggapan hutang itu buruk adalah salah.&lt;br /&gt;Saya sepakat, kalau kalau kita mempunyai hutang pribadi, sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan. Jangan banyak-banyak. Dan pastikan hutang kita itu ada yang bayar.&lt;br /&gt;Dalam berbisnis, kalau bisnis kita mulai berkembang, pasti sangat membutuhkan tambahan modal kerja maupun investasi. Kalau kita mau maju, maka hutang untuk bisnis bukan suatu masalah, justru sangat perlu. Asal kita bisa menggunakannya secara tepat, hal itu justru akan membuat bisnis kita lebih berkembang. Sebagai contoh kita mempunyai modal Rp. 10 juta. Dari modal itu kita unntung 20%, maka keuntungan yang kita peroleh Rp. 2 juta. Namun kalau dari Rp. 10 juta kita bisa mendatangkan tambahan modal Rp. 90 juta dari hutang, sehinga modal menjadi Rp. 100 juta, maka keuntungan kita yang 20% menjadi Rp. 20 juta. Dari sini kita bisa membandingkan berapa keuntungan kita sebelum dan sesudah mendapatkan modal dari luar. Itu hitungan sederhana.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Banyak cara untuk mendapatkan hutang. Misalnya melalui bank. Tetapi bank dalam memberikan pinjaman pasti melihat kredibilitas kita. Kalau bisnis kita baik, mengapa kita takut hutang. Karena dengan tambahnya modal, maka bisnis kita akan menjadi lebih baik. Sehingga dengan berkembangnya bisnis kita, dampak positifnya dapat membuka lapangan kerja baru.&lt;br /&gt;Kredit modal kerja adalah salah satu bentuk hutang yang bisa kita manfaatkan. Dan modal itu bisa kita pakai terus, karena sistemnya rekening koran, dimana kita membayar bunga dari saldo pinjaman yang kita pakai. Setiap jatuh tempo kita diperpanjang. Bahkan kalau bisnis kita semakin maju, maka kita dapat mengajukan tambahan kredit lagi sesuai kebutuhan. Yang penting dalam berhutang tidak ada sedikitpun pikiran atau niat untuk ngemplang atau tidak membayar. Kita harus punya niat baik menepati perjanjian kredit dengan bank.&lt;br /&gt;Perlu kita ketahui, pihak bank sendiri dalam operasionalnya selalu menggunakan fungsi intermediasi, yakni penyaluran dana dan menghimpun dana. Kedua fungsi ini harus seimbang. Dalam penyaluran kredit, pihak bank mengharapkan adanya keuntungan demi kelancaran operasional dan peningkatan kesejahteraan karyawan, serta perkembangan bank itu sendiri. Sedang bagi kita yang memanfaatkan kredit sehingga bisnisnya berkembang, maka dampak positifnya, kesejahteraan karyawan akan meningkat. Disinilah perlunya, pihak bank dan pengusaha saling kerjasama, saling memberikan dukungan.&lt;br /&gt;Sebenarnya, seorang yang mempunyai citra buruk dalam berhutang, pada dasarnya disebabkan orang tersebut ingkar janji, tidak bisa membayar atau bahkan ngemplang tidak mau membayar. Tetapi ada pula citra buruk diciptakan oleh mereka yang tidak percaya untuk mendapatkan hutang. Sehingga sebagai kompensasi kejengkelannya, mereka menyebarkan isu, bahwa hutang itu buruk. Anggapan seperti itu seharusnya tidak perlu terjadi, karena apa yang kita lakukan itu demi kemajuan bisnis kita. Sayangnya, sebagian besar masyarakat percaya tentang hal itu. Padahal kalau kita mau eksis dan maju dalam berbisnis, salah satu jurus yang kitu adalah harus mau dan mampu memanfaatkan dana dari pihak lain. &lt;br /&gt;Untuk melakukan itu memang dituntut keberanian dan rasa optimis. Bisa saja kita punya rasa optimis justru dengan modal sendiri, walaupun ada yang mengatakan, bisnis dengan modal sendiri berarti kita egois, tidak sosial, tidak mau bagi-bagi keuntungan. Dan dari aspek spiritual, menurut saya, semakin banyak kita melibatkan dana orang lain utnuk mengembangkan bisnis, maka semakin banyak pula orang ikut mendoakan bisnis kita. Sebaliknya, kalau bisnis kita menggunakan modal sendiri, maka yang mendoakan bisnis kita hanya kita sendiri. Berani mencoba?***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8002906128406611982-8397382280171283719?l=abdulqoharvisioner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/feeds/8397382280171283719/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/02/mitos-hutang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/8397382280171283719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/8397382280171283719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/02/mitos-hutang.html' title='Mitos Hutang'/><author><name>Abdul Qohar Visioner</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14003617605531911517</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_xa51F9MJT9Q/S2pUN4jNNnI/AAAAAAAAAAM/NzWtFX2V3w8/S220/DSC00228.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8002906128406611982.post-7957713260818097731</id><published>2010-02-08T02:44:00.000-08:00</published><updated>2010-03-12T03:00:38.150-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kewirausahaan'/><title type='text'>Memulai Bisnis Tanpa Uang Tunai</title><content type='html'>Bisnis punya uang tunai dulu, itu sudah lumrah. Tapi tak benar, tak mungkin memulai bisnis tanpa uang tunai&lt;br /&gt;Mungkinkah kita mulai bisnis tanpa memiliki uang tunai? Saya kira itu mungkin saja. Mengapa tidak! Jika kita mampu mengoptimalkan pemikiran kita, maka akan banyak jalan yang bisa ditempuh dalam menghadapi masalah permodalan untuk kita bisa memulai bisnis. Cuma masalah permodalan untuk kita bisa memulai bisnis. Cuma masalahnya, darimana duit itu berasal? Logikanya, semua bisnis itu membutuhkan modal uang.&lt;br /&gt;Memang, kebanyakan kita selalu mengeluh ketiadaan modal uang sebagai alasan mengapa kita "enggan" berwirausaha. Padahal, modal yang paling vital sebenarnya bukanlah uang, tetapi modal non-fisik, yakni berupa motivasi dan keberanian memulai yang mengebu-gebu.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin, jika hal itu sudah bisa dipenuhi, maka mencari modal uang bukanlah persoalan yang tidak mungkin, meski secara pribadi kita tidak memiliki uang. Sementara kita telah tahu, bahwa peluang bisnis telah ada di depan mata. Tentu, alangkah baiknya jika kita tidak menundanya untuk memulai berbisnis.&lt;br /&gt;Toh kita tahu, bahwa sebenarnya banyak sumber permodalan. Seperti uang tabungan, uang pesangon, pinjam di bank dan di koperasi atau dari lembaga keuangan atau dari pihak lainnya. Namun, jika kita ternyata tidak memiliki uang tabungan, uang pesangon atau katakanlah belum ada keberanian untuk meminjam uang di bank atau koperasi, saya kira kita juga tidak perlu risau. Karena ada cara untuk memulai bisnis, meski kita tidak memiliki uang tunai sekalipun.&lt;br /&gt;Contohnya, kita bisa menjadi seorang perantara. Misalnya, menjadi perantara jual beli rumah, jual beli motor dan lain-lain. Keuntungan yang kita dapat bisa dari komisi penjualan atau cara lain atas kesepakatan kita dengan pemilik produk. Saya yakin, kita pasti bisa melakukannya.&lt;br /&gt;Kita bisa juga membuat usaha dengan cara konsumen melakukan pembayaran di muka. Dalam hal ini, kita bisa mencari bisnis dimana konsumen yang jadi sasaran bisnis kita itu mau membayar atau mengeluarkan uang dulu sebelum proses bisnis, baik jasa maupun produk, itu terjadi. Misalnya bisa dilakukan pada bisnis jasa, seperti industri jasa pendidikan. Dimana, siswa diwajibkan membayar dulu didepan sebelum proses pendidikan itu terjadi.&lt;br /&gt;Bisa juga misalnya, ada orang yang memesan barang pada kita, namun sebelum barang yang dipesan itu jadi, pihak konsumen sudah memberikan uang muka dulu. Artinya, itu sama saja kita telah diberi modal oleh konsumen.&lt;br /&gt;Masih ada cara lain memulai bisnis tanpa kita memiliki uang tunai. Contohnya, menggunakan sistem bagi hasil. Biasanya, cara bisnis model ini banyak diterapkan pada Rumah Makan Padang. Dimana kita sebagai orang yang memiliki keahlian memasak, sementara patner bisnis kita sebagai pemilik modal uang.&lt;br /&gt;Kita bekerjasama dan keuntungan yang didapat pun dibagi sesuai kesepakatan bersama. Atau kita mungkin ingin cara lain? Tentu masih ada. Contohnya, kita bisa melakukannya dengan sistem barter dengan pemasok, dan kita pun jika memiliki keahlian tertentu, mengapa tidak saja menjadi seorang konsultan. Selain itu, bisa saja denagn cara kita mengambil dulu produk yang akan diperdagangkan, hanya untuk pembayarannya bisa kita lakukan setelah produk tersebut terjual pada konsumen. Tentu, masih banyak cara lain untuk kita memulai bisnis tanpa uang tunai.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, menurut saya, sebaiknya kita tidak perlu berkecil hati atau takut dipandang rendah, bila ternyata kita memang tidak memiliki uang tunai namun berhasrat untuk memulai bisnis. Saya yakin, dengan kita memiliki uang tunai namun berhasrat untuk memulai bisnis. Saya yakin, dengan kita memiliki kemauan besar menjadi seorang wirausahawan atau entrepreneur, maka setidaknya akan selalu ada jalan untuk memulai bisnis. Nyatanya, tidak sedikit pengusaha yang telah meraih keberhasilan meski saat memulai bisnisnya dulu tanpa memiliki uang tunai.&lt;br /&gt;Itu menunjukkan bahwa tidak benar kalau ada yang mengatakan "Tak mungkin kita memulai bisnis tanpa memiliki uang tunai." Kuncinya sebetulnya terletak pada motivasi dan keberanian kita memulai bisnis yang mengebu-ngebu. Hanya saja, untuk cepat meraih sukses - apalagi tanpa memiliki uang tunai - itu tidak semudah seperti kita membalikkan telapak tangan. Semuanya membutuhkan perjuangan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8002906128406611982-7957713260818097731?l=abdulqoharvisioner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/feeds/7957713260818097731/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/02/memulai-bisnis-tanpa-uang-tunai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/7957713260818097731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/7957713260818097731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/02/memulai-bisnis-tanpa-uang-tunai.html' title='Memulai Bisnis Tanpa Uang Tunai'/><author><name>Abdul Qohar Visioner</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14003617605531911517</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_xa51F9MJT9Q/S2pUN4jNNnI/AAAAAAAAAAM/NzWtFX2V3w8/S220/DSC00228.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8002906128406611982.post-1748136835582431479</id><published>2010-02-08T02:41:00.000-08:00</published><updated>2010-03-12T03:02:17.701-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kewirausahaan'/><title type='text'>Memulai Bisnis Baru</title><content type='html'>Jika kita memang ingin memulai bisnis baru, maka semestinya peluang pasarlah yang lebih kita jadikan pijakan.&lt;br /&gt;Saya percaya, bahwa setiap tahun telah cukup banyak orang yang masuk dunia bisnis. Mereka umumnya melakukan tiga cara. Yakni, membeli bisnis yang sudah ada, menjadi partner dalam sebuah franchise, atau dengan memulai bisnis baru.&lt;br /&gt;Jika kita akan memulai bisnis baru, tentu kita harus bisa menjawab empat pertanyaan ini. Pertama, produk atau layanan apakah yang akan kita buat, dan itu untuk siapa? Kedua, mengapa harus usaha itu? Mengapa calon customer harus membeli dari kita? Apa yang akan kita berikan jika ternyata produk itu belum ada? Bagaimana kompetisinya? Apa keuntungan yang akan kita peroleh dari kompetisi itu? Ketiga, Apakah kita mempunyai sumbernya? Apakah kita akan mendapat order? Apakah order itu datang segera? Keempat, siapa pasar kita? Lantas dari manakah ide untuk mulai bisnis baru itu berasal?&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hasil sebuah survey di AS, yang tertuang dalam buku The Origins of Entrepreneurship, memang disebutkan, bahwa 43% pengusaha itu dapat ide dari pengalaman yang diperoleh saat dia bekerja di industri yang sama. Mereka tahu operasional suatu usaha dan umumnya punya jaringan kerjasama. Sebanyak 15% pengusaha dapat ide bisnis saat melihat orang lain mencoba suatu usaha. Sebanyak 11% pengusaha dapat ide saat melihat peluang pasar yang tidak atau belum terpenuhi, 7% pengusaha dapat ide karena telah meneliti secara sistematik kesempatan berbisnis, dan 3% pengusaha dapat ide karena hobi atau tertarik akan kegemaran tertentu. Di Indonesia sendiri bagaimana?&lt;br /&gt;Saya kira dalam konteks ini, kita tidak harus sependapat dengan hasil data tersebut. Data 43% pengusaha itu dapat ide dari pengalaman yang diperoleh ketika bekerja di industri yang sama, itu menunjukkan bahwa dia tipe pengusaha yang hanya berani memulai bisnis baru karena hanya semata melihat sisi terangnya saja. Menurut saya, jika kita memang benar-benar ingin memulai bisnis baru, semestinya peluang pasarlah yang lebih kita jadikan pijakan.&lt;br /&gt;Untuk itulah langkah yang kita gunakan pun bukannya inside out aproach melainkan outside in approach, yaitu pendekatan dari luar ke dalam. Cara ini cenderung melihat dahulu, apakah ada peluang bisnis atau tidak. Sebab, sesungguhnya ide dasar bisnis itu sukses adalah jika kita mampu merespon dan mengkreasikan kebutuhan pasar. Cara ini biasanya disebut opportunity recognition.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, saya berpendapat, sebagai pengusaha kita semestinya harus berani memulai bisnis baru. Hal itu memang bukan hal mudah, karena membutuhkan analisa dan perencanaan yang serius.&lt;br /&gt;Namun, percayalah bahwa ide memulai bisnis baru tak terlalu sulit. Ide itu bisa berasal dari mana saja dalam berbagai cara.Yang pasti,sekali ide bisnis itu dikembangkan dengan jelas, maka bisnis baru itu niscaya akan berkembang. Apalagi, setelah terlebih dahulu kita adakan evaluasi dengan teliti, baik itu berkaitan dengan customer dan Kompetisinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8002906128406611982-1748136835582431479?l=abdulqoharvisioner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/feeds/1748136835582431479/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/02/memulai-bisnis-baru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/1748136835582431479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/1748136835582431479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/02/memulai-bisnis-baru.html' title='Memulai Bisnis Baru'/><author><name>Abdul Qohar Visioner</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14003617605531911517</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_xa51F9MJT9Q/S2pUN4jNNnI/AAAAAAAAAAM/NzWtFX2V3w8/S220/DSC00228.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8002906128406611982.post-3195560073054996811</id><published>2010-02-08T02:40:00.001-08:00</published><updated>2010-02-08T02:40:54.393-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kewirausahaan'/><title type='text'>Bukan Melulu Karena Uang</title><content type='html'>Kesukses bisnis kita bukan semata-mata uang, tapi visi. Karena itu, visi masa depan harus kita miliki.&lt;br /&gt;Saya kira, tidak sedikit obsesi entrepreneur dalam menekuni bisnisnya, bukan semata karena uang. Banyak dari mereka yang maju karena visi, yaitu ingin menciptakan lapangan pekerjaan, dan dari usahanya itu mempunyai dampak sosial bagi kesejahteraan masyarakat. Dan, karena visinya seperti itu, maka dengan berhasil menciptakan lapangan kerja, atau usahanya memiliki dampak sosial yang positif, maka hal itu pun sudah merupakan sesuatu yang sangat memuaskan dirinya.&lt;br /&gt;Bahkan, saya merasakan, bahwa dengan memiliki visi itu, maka kalaupun usaha yang kita jalankan tidak untung, tetapi tetap jalan, maka hal tersebut bukanlah merupakan permasalahan yang amat penting.&lt;br /&gt;Selama ini saya jarang melihat, ada entrepreneur yang mencapai puncak prestasinya, dengan cara lebih menempatkan uang sebagai penggerak utamanya. Tapi saya berpendapat, keberhasilannya karena ia memang lebih punya kemampuan menggerakkan visinya. Sehingga, sosok entrepreneur seperti ini, selalu saja punya keinginan merubah cara kerja dunia.&lt;br /&gt;Mereka selalu kreatif dan inovatif, Mereka menikmati apa yang dilakukannya. Pendeknya, visi itulah yang sebenarnya menggerakkan entrepreneur melakukan sesuatu yang akhirnya usahanya meraih kesuksesan.&lt;br /&gt;Hanya saja, untuk bisa menjadi entrepreneur yang baik, maka perlu memiliki kebebasan untuk mengejar visi-visi tersebut. sebaliknya, jika tak dapat melakukannya, maka kita tidak akan pernah memperoleh keuntungan dari hal tersebut.&lt;br /&gt;Pengusaha yang bisa kita jadikan contoh memiliki visi yang luar biasa adalah Bill Gates pendiri perusahaan komputer perangkat lunak terbesar di dunia, Microsoft Corp, yang baru-baru ini meraih gelar Doctor (HC) di sebuah universitas di Jepang. Pengusaha ini termasuk orang tersukses pada akhir abad ke-20 dalam kategori bisnis.&lt;br /&gt;Namun, dari apa yang saya pahami, keberhasilannya itu karena ia memiliki visi dan komitmen untuk sukses, dan ternyata Bill Gates sangat menikmatinya. Jelas, bahwa kesuksesannya nyata-nyata bukan Semata-mata karena soal uang, tetapi karena ia memiliki komitmen yang luar biasa pada visinya. sesuatu yang mungkin sulit kita bayangkan sebelumnya.&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, saya sependapat dengan Fred Smith, pendiri dan CEO Federal Express Corporation, bahwa untuk bisa menjadi entrepreneur sukses, semestinya kita juga memiliki kemampuan melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Atau minimal melihat sesuatu dalam cara yang berbeda dari orang lain yang melihatnya secara tradisional.&lt;br /&gt;Jadi menurut saya, sebaiknya kita sebagai seorang entrepreneur, memiliki kemampuan membuat visi masa depan. Disamping juga, kita harus mampu menggunakan intuisi, bahkan kalau perlu kita pun juga sering membuat perubahan "revolusioner". Dengan begitu, setidaknya kita memiliki kemampuan melihat masa depan dengan lebih baik. Kita harus yakin, bahwa tahun-tahun ke depan akan menjadi masa terbaik bagi para entrepreneur. Maka tak ada salahnya kalau kita berani meraihnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8002906128406611982-3195560073054996811?l=abdulqoharvisioner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/feeds/3195560073054996811/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/02/bukan-melulu-karena-uang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/3195560073054996811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/3195560073054996811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/02/bukan-melulu-karena-uang.html' title='Bukan Melulu Karena Uang'/><author><name>Abdul Qohar Visioner</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14003617605531911517</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_xa51F9MJT9Q/S2pUN4jNNnI/AAAAAAAAAAM/NzWtFX2V3w8/S220/DSC00228.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8002906128406611982.post-8222908323564183803</id><published>2010-02-08T02:38:00.000-08:00</published><updated>2010-02-08T02:39:53.107-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kewirausahaan'/><title type='text'>Peluang Bisnis Di Sekitar</title><content type='html'>Kita harus ada keberanian untuk jatuh - bangun.&lt;br /&gt;Ada sebuah pertanyaan menarik dari seorang peserta "Entrepreneur University" angkatan ketiga saat mengikuti kuliah perdana pekan lalu. "Saya begitu banyak sekali ide bisnis, tapi nyatanya tak ada satu pun ide bisnis itu terealisir. Akibabnya, saya hanya sekadar kaya ide, tapi bisnis tak ada?", tanya peserta yang kebetulan ibu-rumah tangga itu.&lt;br /&gt;Sebenarnya di sekitar kita ini banyak sekali macam bisnis yang bisa diraih. Hanya saja, kita harus betul-betul memahami kebutuhan masyarakat konsumen. Sebagai contoh, di beberapa kota di Amerika Serikat, sudah banyak bisnis yang dikembangkan dari ide-ide sederhana sep€rti bisnis membangunkan orang tidur (morning call). Aneh, tapi itu nyata. Tentu, pengguna jasa ini harus menjadi member terlebih dahulu dengan membayar annual fee dalam jumlah tertentu. Ada juga bisnis yang di sini masih langka dan belum memasyarakat, yakni bisnis menyewakan pakaian dan perlengkapan bayi.&lt;br /&gt;Barangkali sekarang ini belum banyak yang kita temukan. Namun, saya yakin jika kita kreatif, akan mampu melihat peluang bisnis sebanyak-banyaknya dan mampu menangkap satu atau dua di antaranya. Pendek kata, peluang bisnis tidak akan pernah ada habisnya, selama minat manusia masih menjalankan hajat hidupnya di dunia ini.&lt;br /&gt;Dimana saja sebenarnya peluang bisnis disekitar kita? Misalnya, Saat ldul Fitri yang membawa tradisi kirim mengirim parcel dan buah tangan lainnya, walau itu sifatnya musiman, namun saya melihat itu adalah peluang bisnis. Awalnya musiman, tetapi bila dikembangkan dan ditekuni dapat dijadikan bisnis permanen bersama berkembangnya kehidupan sosial masyarakat.&lt;br /&gt;Keterampilan tertentu juga bisa dijadikan peluang bisnis. Terampil dibidang elektronika misalnya, bisa membuka bisnis reparasi dan maintenance alat-alat elektronik. Ahli di bidang komputer bisa membuka bisnis software dan hardware. Terampil di mesin, bisa memulai bisnis dari servis motor atau mobil. Atau barangkali, punya kreativitas yang berciri khas dan unik, kita bisa merintis bisnis kreatif, seperti Kaos Dagadu itu.&lt;br /&gt;Bahwa produk ini akhirnya jadi souvenir khas yogya, itu sebagai bukti bahwa kreativitas bisa jadi peluang bisnis yang menarik untuk digeluti. Maka, tidak ada salahnya, jika kita juga mencoba mengembangkan kreativitas yang tidak lazim dan unik, agar bisa dijadikan peluang bisnis.&lt;br /&gt;Tingkat pendidikan kita juga bisa menjadi peluang bisnis dengan pengembangan profesi. Misal sarjana matematika membuka kursus matematika. Sarjana Sastra lnggris memulai usaha dengan membuka kursus bahasa lnggris. Peluang bisnis juga ada dilingkungan keluarga. Bisa dimulai dengan berbisnis makanan atau katering dan keluarga bisa diajak serta, dan bisnis ini bisa dikelola dari rumah.&lt;br /&gt;Peluang itu juga terdapat di lingkungan pekerjaan, organisasi dan tetangga. Tentu saja, di lingkungan itu kita banyak teman. Maka, jika punya produk tertentu, bisa saja kita jual produk tersebut kepada mereka. Bahkan relasi kita pun bisa juga jadi peluang bisnis. Misalnya, bisa pinjam uang pada relasi untuk modal usaha. Produk yang dihasilkan, selain bisa dijual pada orang lain, juga pada relasi kita itu. Dengan begitu, kita tak hanya jeli mencari peluang bisnis, tapi juga mampu menciptakan Pasar.&lt;br /&gt;Begitu pula, jika punya hobi. Misalnya melukis, bisa jadi pelukis, dan lukisan itu bisa dijual digaleri. Bagi yang hobi senam aerobik atau body Inngunge, bisa berwirausaha buka studio senam. Bahkan, peluang bisnis itu juga bisa diraih saat kita melakukan perjalanan ke luar kota. lde bisnis bisa muncul setelah kita melihat bisnis di kota lain, dan itu bisa dikembangkan di kota sendiri. Hanya saja, agar bisnis yang akan dijalankan tidak sia-sia, ada baiknya pastikan dulu pasarnya.&lt;br /&gt;Tapi, tentu, peluang bisnis itu hanya bisa diraih, jika kita jeli dan gigih. Ingat pepatah yang mengatakan: "Tidak ada usaha, tidak ada hasil". Oleh karena itu, sebaiknya jangan ragu di dalam setiap meraih peluang bisnis yang ada di sekitar kita. Soal besar kecilnya peluang jangan jadi masalah. Tangkap dulu peluang yang ada. Dan, jangan khawatir, peluang bisnis yang berikutnya pasti akan mengikuti. Bisnis itu selalu mengalir, seperti bola salju, dimulai dari yang kecil lalu menggumpal menjadi besar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8002906128406611982-8222908323564183803?l=abdulqoharvisioner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/feeds/8222908323564183803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/02/peluang-bisnis-di-sekitar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/8222908323564183803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/8222908323564183803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/02/peluang-bisnis-di-sekitar.html' title='Peluang Bisnis Di Sekitar'/><author><name>Abdul Qohar Visioner</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14003617605531911517</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_xa51F9MJT9Q/S2pUN4jNNnI/AAAAAAAAAAM/NzWtFX2V3w8/S220/DSC00228.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8002906128406611982.post-5374219064469312882</id><published>2010-02-08T02:37:00.000-08:00</published><updated>2010-02-08T02:38:23.599-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kewirausahaan'/><title type='text'>Kaya Ide, Miskin Keberanian</title><content type='html'>Kita harus ada keberanian untuk jatuh - bangun.&lt;br /&gt;Ada sebuah pertanyaan menarik dari seorang peserta "Entrepreneur University" angkatan ketiga saat mengikuti kuliah perdana pekan lalu. "Saya begitu banyak sekali ide bisnis, tapi nyatanya tak ada satu pun ide bisnis itu terealisir. Akibabnya, saya hanya sekadar kaya ide, tapi bisnis tak ada?", tanya peserta yang kebetulan ibu-rumah tangga itu.&lt;br /&gt;Saya kira, pertanyaan atau kejadian seperti itu tak hanya dialami oleh ibu tadi, tapi juga cukup banyak dialami oleh kita semua, bahwa yang namanya ide bisnis itu ada-ada saja. Tapi, yah hanya sekadar ide bisnis, sementara bisnisnya nol atau tak terwujud sama sekali. Terkadang ide yang tidak kita realisir justru sudah dicoba lebih dulu oleh orang lain. Dalam konteks ini, saya berpendapat, sebenarnya untuk membuat bisnis, memang dibutuhkan ide. Hanya saja, karena kita hanya kaya ide, namun miskin keberanian untuk mencobanya, maka yang berkembang adalah idenya, sedang bisnisnya nol.&lt;br /&gt;Menurut saya, miskinnya keberanian itu bermula ketika kita mendapat pendidikan di sekolah atau di bangku kuliah, yang kita dapat hanyalah teori semata. Jadi, kita terlalu banyak berteori, tapi miskin praktek. Akibatnya, ketika kita kaya ide, miskin keberanian. Artinya, kalau kita hanya menguasai teori, namun kalau tidak bisa dipraktekkan, maka ide bisnis sehebat apapun akan sulit jadi kenyataan. Yah, seperti halnya, kita belajar setir mobil. Kalau kita hanya tahu teorinya, tapi tak pernah mencoba atau mempraktekkannya, tentu tetap tidak bisa setir mobil.&lt;br /&gt;Jadi, saya kira, persoalannya adalah terletak pada, bagaimana kita yang semula hanya kaya teori atau hanya sekadar bermain logika atau istilah lainnya hanya mengandalkan otak kiri, kemudian bisa berpikir atau bertindak dengan otak kanan, Saya yakin, jika kita mampu juga menggunakan otak kanan, maka seperti pada saat kita setir mobil. Serba otomatis, tidak lagi harus dipikir, semua sudah di bawah sadar kita.&lt;br /&gt;Kalau pun, di saat kita praktek setir mobil atau mempraktekkan teori kita itu, terjadi berbagai kendala, seperti: di saat kita memasukkan mobil ke garasi, mobil kita sedikit rusak karena nyenggol pagar misalnya, saya kira nggak masalah. Begitu juga, ketika kita kecil belajar bersepeda, mengalami jatuh beberapa kali, itu sudah biasa. Tapi, akhirnya, bisa juga kita naik sepeda. Artinya, kita baru bisa naik sepeda setelah pernah mengalami jatuh beberapa kali.&lt;br /&gt;Di bisnis, saya kira itu juga sama. Kita harus ada keberanian untuk jatuh dan bangun. Sebaliknya, kalau tidak ada keberanian seperti itu, bisnis sekecil apapun tak akan ada. Dan, kalau kita biarkan ide bisnis itu, akibatnya kita hanya kaya ide bisnis, tapi miskin duitnya. Saya yakin, engan keberanian itulah akan mendatangkan duit. Oleh karena itulah, menurut hemat saya, lebih baik kita berani mencoba dan gagal dari pada gagal mencoba. Anda berani mencoba?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8002906128406611982-5374219064469312882?l=abdulqoharvisioner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/feeds/5374219064469312882/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/02/kaya-ide-miskin-keberanian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/5374219064469312882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/5374219064469312882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/02/kaya-ide-miskin-keberanian.html' title='Kaya Ide, Miskin Keberanian'/><author><name>Abdul Qohar Visioner</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14003617605531911517</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_xa51F9MJT9Q/S2pUN4jNNnI/AAAAAAAAAAM/NzWtFX2V3w8/S220/DSC00228.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8002906128406611982.post-8624405094971198309</id><published>2010-02-08T02:34:00.000-08:00</published><updated>2010-02-08T02:36:18.776-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kewirausahaan'/><title type='text'>Berani Dulu, Baru Trampil</title><content type='html'>Saya bisanya hanya nggodhog wedang atau merebus air, tapi akhirnya saya bisa juga punya restoran. Itu karena, saya punya keberanian.&lt;br /&gt;Saat saya berbicara pada kuliah kewirausahaan di Fakultas Ekonomi sebuah universitas swasta di Yogyakarta, saya sempat ditanya para mahasiswa: "Apakah seorang untuk menjadi pengusaha itu harus memiliki keterampilan dulu ?"&lt;br /&gt;Saya rasa, ini pertanyaan bagus. Pertanyaan yang sama pernah juga hinggap di benak saya, yaitu saat saya baru memulai menjadi pengusaha. Saat pertanyaan ini saya balikkan pada mereka, teryata sebagian besar mahasiswa mengatakan: "Perlu terampil dulu, baru berani memulai usaha."&lt;br /&gt;Saya rasa jawaban mereka tidak bisa disalahkan. Mereka cenderung menggunakan otak rasional. Padahal menurut saya, untuk menjadi pengusaha, kita harus berani dulu memulai usaha, baru setelah itu memiliki keterampilan. Bukan sebaliknya, terampil dulu, baru berani memulai usaha.&lt;br /&gt;Sebab, saya melihat di Indonesia, ini sebenarya banyak sekali pengangguran yang tidak sedikit memiliki keterampilan tertentu. Namun, mereka tidak punya keberanian memulai usaha. Akibatnya, keterampilan yang dimiliki apakah itu yang diperolehnya saat sekolah atau bekerja sebelumnya, akhirnya banyak yang tidak dimanfaatkan. Itu 'kan sayang sekali.&lt;br /&gt;Seperti yang saya alami sendiri, saat membuka usaha Restoran Padang Sari Raja. Saya katakan pada mereka, bahwa terus terang saya tidak bisa membuat masakan padang yang enak. saya penikmat masakan padang. Tapi saya tidak tahu bumbunya apa saja yang membuat masakan tersebut enak. Saya katakan pada mereka: "Saya bisanya hanya nggodhog wedang atau merebus air". Itu artinya apa? Saya bisa punya usaha restoran, karena saya punya keberanian.&lt;br /&gt;Begitu juga, saat saya dulu membuka usaha Bimbingan Belajar Primagama. Saya belum pernah mengajar atau menjadi tentor di tempat lain. Bahkan saya belum pernah menjadi karyawan di perusahaan orang lain. Namun, saya memberanikan diri untuk membuka usaha tersebut. Sebab, saya berpendapat, kalau kita tidak punya keterampilan, maka banyak orang lain yang terampil di bidangnya bisa menjadi mitra usaha kita.&lt;br /&gt;Karena itu bagi saya, yang terpenting adalah keberanian dulu membuka usaha. Apapun jenisnya, apapun namanya. Sebab, sesungguhnya, untuk menjadi pengusaha, keterampilan bukan segala-galanya. Tetapi keberanian memulai usaha itulah yang harus kita miliki terlebih dahulu.&lt;br /&gt;Banyak contoh, orang yang sukses menjadi manajer, tapi ternyata belum tentu sukses sebagai entrepreneur. sebaliknya, seseorang yang di awal memulai usaha dengan tidak memiliki keterampilan manajerial, tetapi ia memiliki keberanian memulai usaha, banyak yang ternyata berhasil. Orang jenis terakhir ini selain memiliki keberanian, juga mau mengembangkan jiwa entrepreneur. Oleh karena itulah saya kira, jiwa entrepreneur, harus kita bangun atau kita bentuk sejak awal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8002906128406611982-8624405094971198309?l=abdulqoharvisioner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/feeds/8624405094971198309/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/02/berani-dulu-baru-trampil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/8624405094971198309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/8624405094971198309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/02/berani-dulu-baru-trampil.html' title='Berani Dulu, Baru Trampil'/><author><name>Abdul Qohar Visioner</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14003617605531911517</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_xa51F9MJT9Q/S2pUN4jNNnI/AAAAAAAAAAM/NzWtFX2V3w8/S220/DSC00228.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8002906128406611982.post-659287704269727791</id><published>2010-02-08T02:28:00.000-08:00</published><updated>2010-02-08T02:30:54.368-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kewirausahaan'/><title type='text'>Gagal Kuliah, Jadilah Entrepreneur</title><content type='html'>Mulailah berwirausaha justru di saat kita tidak punya apa-apa.&lt;br /&gt;Waktu kuliah dulu saya punya teman yang pandai dan memiliki wawasan dunia bisnis yang lumayan. Ide-ide rencana usaha yang muncul dari pemikirannya sangat cemerlang. Selalu saja, ide-ide itu adalah ide bisnis yang menarik, prospeltif, dan berpeluang besar untuk digarap. Semua teman kuliah berdecak kagum dengan lontaran ide-idenya.&lt;br /&gt;Tetapi ide-ide itu tinggal ide saja. Sampai hari ini belum ada satu pun bisnis yang pernah dijalankannya. Malahan, terakhir saya ketemu dia, berstatus karyawan sebuah perusahaan publik di Jakarta. Dia memang terlalu pandai untuk merencanakan sebuah usaha sekaligus terlalu takut untuk memulai.&lt;br /&gt;Ada juga mahasiswa yang pernah datang pada saya. Dia menyatakan ingin berwirasusaha, kemudian dia mengatakan, bahwa dirinya belum punya modal dan tidak begitu pandai. Saya katakan pada dia: "Kebetulan!" Kemudian saya katakan lagi: "Jangan takut, karena modal utama untuk memulai bisnis adalah keberanian."&lt;br /&gt;Mengapa saya katakan seperti itu? Sebab, biasanya kalau terlalu pinter itu malah terlalu berhitung. Orang yang tahu banyak hal, maka dia akan tahu banyak risiko dan halangan di depannya. Hal itu menurut saya justru akan menciutkan nyalinya. &lt;br /&gt;Saya malah pernah bilang pada seorang sarjana yang ingin berwirausaha. Saya katakan: "Sekarang, abaikan ijazahmu. Buatlah dirimu seolah-olah tidak punya apa-apa, kecuali semangat dan keinginan yang kuat."&lt;br /&gt;Saya teruskan: "Mulailah berwirausaha justru pada saat Anda tidak punya apa-apa. Saat Anda merasa tertekan. Saat Anda tidak dapat berbuat apa-apa dengan ijazah Anda. Saat Anda kebingungan karena harus bayar kredit rumah. Atau pada saat Anda merasa terhina."&lt;br /&gt;Memang nasehat saya ini agak berbeda dengan kebanyakan orang. Biasanya orang menyarankan, kalau mau usaha sebaiknya mengumpulkan modal dulu, kemudian cari tempat dan seterusnya. Tetapi, banyak orang sukses sebagai wirausahawan justru dimulai dari sebaliknya, hanya punya semangat dan tidak punya apa-apa. Kondisi yang ada memaksa mereka harus "bermimpi" tentang masa depannya, kemudian tertantang untuk menggapainya, dan berusaha keras untuk mewujudkannya.&lt;br /&gt;Anda tentu tahu atau paling tidak pernah mendengar nama Steve Jobs. sebelumnya dia bukan siapa-siapa. Jobs hanyalah anak muda yang gemar bercelana jeans belel dan berkantong kempes. Belakangan, dia membuat Apple Computer di garasi rumahnya, dan mendirikan perusahaan yang masuk Fortune 500 lebih cepat dari siapapun sepanjang sejarah.&lt;br /&gt;Jobs adalah contoh orang yang berhasil dalam berwirausaha, justru bukan karena kepandaiannya di bangku kuliah. Tapi, karena ia memiliki keberanian dan keyakinan akan usaha yang digelutinya. Dia mampu bertindak merealisasi gagasannya dengan meninggalkan lingkungan kuliah dan teman-temannya yang suka berhura-hura.&lt;br /&gt;Tapi, saya tidak menyarankan Anda untuk mengabaikan pendidikan. Hanya saja, saya ingin mengatakan, bahwa untuk menjadi wirausahawan terlebih dahulu dibutuhkan keberanian memulai (bertindak), untuk memanfaatkan peluang bisnis yang ada. Hal tersebut harus segera dilakukan, sebelum orang lain mendahuluinya. Kepandaian akademis akan diperlukan bila usaha kita sudah berjalan, dan itu bisa kita dapatkan dengan mengikuti kuliah lagi, atau kita bisa membayar orang-orang pandai sebagai karyawan atau konsultan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8002906128406611982-659287704269727791?l=abdulqoharvisioner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/feeds/659287704269727791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/02/gagal-kuliah-jadilah-entrepreneur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/659287704269727791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/659287704269727791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/02/gagal-kuliah-jadilah-entrepreneur.html' title='Gagal Kuliah, Jadilah Entrepreneur'/><author><name>Abdul Qohar Visioner</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14003617605531911517</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_xa51F9MJT9Q/S2pUN4jNNnI/AAAAAAAAAAM/NzWtFX2V3w8/S220/DSC00228.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8002906128406611982.post-7310612210480642626</id><published>2010-02-08T02:23:00.000-08:00</published><updated>2010-02-08T02:27:02.845-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kewirausahaan'/><title type='text'>Mimpi Jadi Investor</title><content type='html'>Menjadi investor, berarti uang bekerja untuk kita.&lt;br /&gt;Menjadi karyawan (employee), bisnis sendiri (self-employed), menjadi pengusaha (bussines owner), dan sekaligus sebagai investor, itu memang bisa saja menjadi pekerjaan kita. contohnya, dokter. selain dia sudah tercatat sebagai pegawai negeri atau sebagai karyawan, dia pada saat praktek di rumah atau di tempat prakteknya, maka sang dokter itu sudah mengelola bisnis sendiri.&lt;br /&gt;Nah, apabila, dokter itu punya klinik atau laboratorium, maka dia sebagai layaknya pengusaha. Sedangkan, kalau dia membeli aset dalam bentuk real estate atau rumah, atau membeli saham, atau ikut sirkah, maka dokter tersebut sebagai investor atau penanam modal. Tapi yang jelas, jika kita ingin mendapatkan kekayaan atau aset untuk masa depan, saya kira, lebih pas atau cocok kalau kita bisa menjadi pengusaha atau investor. Biasanya, kalau kita sudah menjadi pengusaha, maka tidak sulit untuk menjadi investor. &lt;br /&gt;Kalau kita sebagai karyawan, maka kita bekerja untuk orang lain. sementara, kalau kita mengelola bisnis sendiri, maka kita bekerja untuk diri kita sendiri, sehingga kalau kita libur tentu tidak akan dapat duit. Karena apa? Itu karena, dengan mengelola bisnis sendiri kita bekerja belum menggunakan sistem. Sehingga, tanpa kita terlibat langsung dalam bisnis itu, maka bisnis tidak bisa jalan.&lt;br /&gt;Jika kita sebagai pengusaha, maka orang bekerja untuk kita. Artinya, kita sudah menggunakan sistem. Katakanlah, kalau kita sebagai pengusaha sedang cuti atau libur satu tahun, bahkan waktunya cukup lama sekalipun, maka bisnis itu tetap jalan. Bahkan, tak menutup kemungkinan bisnis kita justru lebih maju. Dan, saya kerap kali melihat, bahwa mereka yang sekarang telah menjadi pengusaha, bisa juga sekaligus sebagai investor. Kalau kita sebagai pengusaha kecil yang kesemuanya dari yang kecil sampai yang besar kita urus sendiri, maka begitu kita libur, uangnya juga libur.&lt;br /&gt;Jika kita sebagai karyawan di perusahaan yang memberikan gaji besar, dan kita bisa menabung, maka setelah pensiun kita bisa jadi investor. Kalau kita sebagai karyawan dengan penghasilan pas-pasan, itu bisa dengan memulai usaha atau bisnis kecil-kecilan atau mengelola bisnis sendiri yang masih kecil. Oleh karena itu, saya berpendapat kalau sekarang ini posisi kita sebagai karyawan, maka kita sebaiknya berusaha keras, bagaimana bisa punya bisnis sendiri. Setelah bisnis itu jalan, maka bagaimana kita berusaha mengembangkan sistem, dimana bisnis kita menjadi besar. Sampai akhirnya kita bisa menjadi pengusaha.&lt;br /&gt;Dan, setelah itu bukan hal yang tak mungkin, kalau kemudian kita bisa menjadi investor. Menjadi investor berarti uang bekerja untuk kita. Maka, kalau kita mau kaya, mestinya tidak cukup kita menjadi karyawan atau sekedar punya bisnis kecil-kecilan, sebaiknya kita harus berani menjadi pengusaha atau investor, sekalipun untuk menuju ke arah sana bukan hal yang mudah. Tak sedikit tantangan yang harus kita hadapi. Tapi yakinlah, dengan kita memiliki jiwa entrepreneur, mimpi jadi investor akan menjadi kenyataan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8002906128406611982-7310612210480642626?l=abdulqoharvisioner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/feeds/7310612210480642626/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/02/mimpi-jadi-investor.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/7310612210480642626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/7310612210480642626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/02/mimpi-jadi-investor.html' title='Mimpi Jadi Investor'/><author><name>Abdul Qohar Visioner</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14003617605531911517</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_xa51F9MJT9Q/S2pUN4jNNnI/AAAAAAAAAAM/NzWtFX2V3w8/S220/DSC00228.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8002906128406611982.post-5241491878216113826</id><published>2010-02-07T23:22:00.000-08:00</published><updated>2010-02-07T23:24:15.758-08:00</updated><title type='text'>Mimpi Jadi Entrepreneur</title><content type='html'>Memajukan perusahaan, saya kira, itulah harapan setiap orang yang bergerak di bidang bisnis. Itu hal yang sangat mungkin, asal orang-orang yang ada di dalamnya mau berusaha mewujudkan keinginan tersebut. Menurut saya, salah satu jalan untuk mewujudkan keinginan tersebut diantaranya adalah membentuk manajer-manajer yang berjiwa entrepreneur di sebuah perusahaan.&lt;br /&gt;Hal ini sangatlah penting. Sebab jika tidak, akan berakibat pada perusahaan atau bisnis itu sendiri, yakni usaha akan berada pada posisi stabil atau status quo. Kondisinya hanya begitu-begitu saja.&lt;br /&gt;Namun lain halnya, apabila sebuah perusahaan memiliki manajer yang berjiwa entrepreneur, saya yakin bisnis yang tersebut akan lebih berpeluang cepat berkembang. Juga, akan lebih siap menghadapi persaingan bisnis yang ketat di era globalisasi.&lt;br /&gt;Selain itu, manajer berjiwa entrepreneur akan membuat sebuah perusahaan lebih kreatif dan inovatif. Sebab, bisnis yang sudah mencapai titik optimum biasanya jika tidak disentuh oleh manajer berjiwa entrepreneur, justru akan mengalami kondisi menurun.&lt;br /&gt;Saya sendiri merasakan bahwa ketika sebuah perusahaan memiliki manajer berjiwa entrepreneur, biasanya perusahaan tersebut juga akan selalu siap menghadapi setiap perubahan dalam bisnis. Itu pula yang saya kira, ada di perusahaan saya.&lt;br /&gt;Dan, perubahan, bagi manajer berjiwa entrepreneur adalah pekerjaan itu sendiri. Sedangkan resiko yang timbul juga bagian dari pekerjaannya. Persis seperti yang dikatakan oleh William Ahmanson, bahwa dalam bisnis tidak ada jalan lurus yang dapat ditempuh dari tempat satu ke tempat lain.&lt;br /&gt;Maka, dalam konteks inilah, saya melihat, bahwa ada tiga komponen di dalam sebuah bisnis, meliputi: investor (orang yang mencari resiko), entrepreneur (orang yang mengambil resiko), dan manager (orang yang menghindar dari resiko). Dan, dalam kondisi bisnis yang baik, jiwa entrepreneur menjadi hal yang sangat penting. Apalagi di saat sebuah usaha harus menghadapi krisis ekonomi, tentu saja sikap ini akan lebih penting lagi.&lt;br /&gt;Karena itu, kita bisa melihat, bagaimana orang-orang barat yang bergerak di dunia usaha juga terus melakukan pengambangan bentuk-bentuk intuisi, yang saya tahu itu sangat banyak membantu dalam mengembangkan usahanya. Itu juga pertanda, bahwa mereka memiliki jiwa entrepreneur.&lt;br /&gt;Adapun ciri-ciri manajer berjiwa entrepreneur memang tidak hanya itu. Menurut J.A Schumpeter dalam bukunya “The Entrepreneur as Innovator”, manajer berjiwa entrepreneur juga merupakan sosok yang berambisi tinggi di dalam mengembangkan bisnisnya, energik, percaya diri, kreatif dan inovatif, senang dan pandai bergaul, berpadangan ke depan, bersifat fleksibel, berani terhadap resiko, senang mandiri dan bebas, banyak inisiatif dan bertanggung jawab, optimistik, memandang kegagalan sebagai pengalaman yang berharga (positif), selalu berorientasi pada keuntungan, dan gemar berkompetisi.&lt;br /&gt;Berbeda dengan manajer yang tidak berjiwa entrepreneur. Biasanya mereka cenderung berpikir sangat rasional, suka kemapanan, dan tidak menginginkan adanya perubahan. Kerap kali terjadi mereka mengalami kesulitan dalam mengikuti gaya berpikir seorang entrepreneur. Mereka juga akan kesulitan mengikuti langkah-langkah bisnis entrepreneur.&lt;br /&gt;Namun ketika seorang manajer memiliki sense of entrepreneur, biasanya ia akan bisa menjadi entrepreneur sejati. Dan, apabila Anda sebagai entrepreneur telah memiliki manajer yang menjalankan usaha Anda, sebaiknya manajer perusahaan yang berjiwa entrepreneur tersebut Anda beri lagi sebuah tantangan yang lebih besar, misalnya mengelola unit usaha anda, lantas berbekal jiwa entrepreneur yang dimilikinya, ia memberanikan diri mendirikan usaha sendiri. Itu tentu saja lebih baik. Sebab tindakannya itu akan membantu menciptakan lapangan kerja, entrepreneur-entrepreneur baru pun semakin sering bermunculan.&lt;br /&gt;Memang, pada akhirnya bisa jadi ia akan menjadi kompetitor Anda jika ternyata bisnis yang digelutinya sama dengan bisnis Anda. Saran saya, anggap saja itu sebagai bumbu penyedap dalam menggeluti bisnis. Selamat menjadi manajer berjiwa entrepreneur. Atau, membentuk manajer Anda memiliki karakter entrepreneur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8002906128406611982-5241491878216113826?l=abdulqoharvisioner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/feeds/5241491878216113826/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/02/mimpi-jadi-entrepreneur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/5241491878216113826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8002906128406611982/posts/default/5241491878216113826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdulqoharvisioner.blogspot.com/2010/02/mimpi-jadi-entrepreneur.html' title='Mimpi Jadi Entrepreneur'/><author><name>Abdul Qohar Visioner</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14003617605531911517</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_xa51F9MJT9Q/S2pUN4jNNnI/AAAAAAAAAAM/NzWtFX2V3w8/S220/DSC00228.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
